Pura Kahyangan Jagat Desa Senduro

  • May 16, 2026
  • DESA SENDURO

Di Bawah Bayang Mahameru, Berdiri Pura yang Menyatukan Jawa dan Bali

Senduro, - Kabut tipis perlahan turun di lereng Gunung Semeru, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. 

Di tengah udara dingin khas pegunungan, berdiri megah sebuah pura yang selama puluhan tahun menjadi simbol spiritual umat Hindu di kawasan timur Pulau Jawa, yakni Pura Mandara Giri Semeru Agung.

Pura yang berada di Desa Senduro, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang itu bukan hanya dikenal sebagai pura terbesar di Jawa Timur, tetapi juga menjadi penanda eratnya hubungan spiritual antara Jawa dan Bali sejak masa lampau.

Kemegahan pura langsung terasa sejak memasuki kawasan depan. Gerbang Candi Waringin Lawang khas Majapahit berdiri kokoh dengan warna merah bata yang mencolok di antara hijaunya pepohonan lereng Semeru.

Suasana asri dan sejuk begitu terasa ketika kaki melangkah masuk ke kawasan pura. Namun, semakin jauh memasuki area madya mandala hingga utama mandala, nuansa Bali semakin kuat terlihat.

Deretan candi bentar, pelinggih, hingga wantilan tertata rapi mengikuti arsitektur khas Bali hasil rancangan arsitek Ir Nyoman Gelebet.

Di balik kemegahannya saat ini, Pura Mandara Giri Semeru Agung menyimpan perjalanan panjang yang tidak mudah.

Pengurus Harian Pura Mandhara Giri Semeru Agung, Wira Dharma mengatakan, umat Hindu di kawasan Semeru sebenarnya telah memiliki keinginan membangun pura sejak tahun 1969.

Namun kala itu, niat tersebut sulit diwujudkan. Selain keterbatasan ekonomi umat Hindu di kawasan Semeru, proses perizinan pembangunan juga tidak mudah diperoleh.

“Waktu itu umat Hindu di kawasan Semeru memang sudah lama memiliki cita-cita mendirikan pura di lereng Gunung Semeru,” katanya, Sabtu (16/5/2026).

Keinginan tersebut kemudian mendapat respons dari tokoh-tokoh Hindu di Bali yang rutin datang ke Petirtaan Watu Klosot di kaki Gunung Semeru untuk mengambil tirta suci.

Tirta tersebut digunakan dalam berbagai upacara besar di Bali, salah satunya Karya Agung Eka Dasa Rudra di Pura Besakih, Karangasem, pada tahun 1979.

Menurutnya, gagasan pembangunan pura di kawasan Semeru sebenarnya telah diwacanakan sejak 1963 oleh Penglingsir Puri Agung Ubud Ida Tjokorda Gede Sukawati.

Hal itu tidak lepas dari posisi Gunung Semeru yang sangat disucikan umat Hindu.

Bahkan dalam susastra Negarakertagama, Gunung Semeru disebut sebagai gunung suci yang memiliki nilai spiritual tinggi.

“Gunung Semeru dianggap sangat suci oleh umat Hindu. Karena itu muncul pemikiran perlunya membangun pura di kawasan Semeru,” tuturnya.

Selain alasan spiritual, perjalanan panjang dari Bali menuju Semeru yang memakan waktu hingga sekitar 11 jam juga menjadi pertimbangan utama.

Kala itu, para pemedek yang datang untuk mengambil tirta suci harus bermalam di Lumajang sebelum kembali ke Bali.

Karena membawa tirta suci, para tokoh Hindu memandang perlu adanya tempat suci untuk menstanakan tirta sementara waktu sebelum dibawa kembali ke Bali.

Hubungan spiritual antara Bali dan Semeru sendiri dipercaya telah berlangsung sejak masa kuno.

Dalam kisah Tantu Panggelaran disebutkan bahwa ketika Pulau Jawa belum stabil, para dewa memindahkan Gunung Mahameru dari India ke Pulau Jawa dan menjadi Gunung Semeru.

Sebagian puncaknya dipercaya kembali dipindahkan ke Bali dan menjadi Gunung Agung serta Gunung Batur, bahkan hingga ke Lombok menjadi Gunung Rinjani.

“Atas dasar itulah hubungan Bali dan Lumajang sangat erat,” jelasnya.

Harapan umat Hindu di Lumajang kembali menguat pada tahun 1986 setelah PHDI Kabupaten Lumajang resmi terbentuk.

Pembangunan pura kemudian menjadi salah satu program utama organisasi tersebut.
Awalnya bukan pura yang dibangun, melainkan sekretariat Parisada Kabupaten Lumajang.

Namun kedatangan tokoh-tokoh Hindu dari Bali yang hendak menuju Petirtaan Watu Klosot dimanfaatkan untuk membahas rencana pembangunan pura di kawasan Semeru.

Dalam pertemuan itu, tokoh-tokoh Hindu dari Bali menyatakan siap membantu pembangunan pura di Lumajang. Meski demikian, pembangunan tidak serta-merta berjalan lancar.

Lokasi pembangunan pura sempat beberapa kali berpindah.Desa Kandangan awalnya dipilih sebagai lokasi pembangunan, namun akses jalan menuju kawasan tersebut dianggap kurang memadai.

Alternatif lain di Desa Kertosari juga sempat ditolak umat karena berada di jalur lahar Gunung Semeru.

Sementara lokasi di kawasan bawah Senduro dianggap terlalu sempit.

Setelah melalui berbagai pertimbangan, akhirnya kawasan Senduro bagian atas dipilih sebagai lokasi tetap pembangunan Pura Mandara Giri Semeru Agung. Awalnya luas areal pura hanya sekitar 20 x 60 meter.

Lanjut dia, lokasi tersebut dipilih berdasarkan pawisik yang diterima umat. Konon, tanah di kawasan itu mengeluarkan aroma harum sehingga diyakini sebagai tempat suci.

Lahan tersebut kemudian dibeli menggunakan dana punia dari donatur dan umat Hindu di Lumajang.

Setelah proses perizinan kembali diajukan, izin pembangunan akhirnya turun tiga tahun kemudian.

Pembangunan pura dilakukan secara bertahap.
Mulai dari pembelian batu bata hingga pembangunan padmasana. Namun proses pembangunan sempat mengalami keanehan.

Padmasana yang awalnya dibangun menghadap ke timur beberapa kali tidak bisa diselesaikan.
Posisinya kemudian digeser agak ke utara, namun tetap tidak dapat dituntaskan.

Hingga akhirnya umat kembali mendapat pawisik agar padmasana dihadapkan ke selatan.

“Setelah dihadapkan ke selatan, pembangunan berjalan lancar dan punia mulai mengalir dari umat Hindu di Bali maupun luar Bali,” katanya.

Perkembangan pembangunan pura semakin pesat setelah rombongan tokoh Hindu dari Bali yang dipimpin Penglingsir Puri Ubud Tjokorda Gde Agung Suyasa bersama Jro Gede Batur Alitan dan Mangku Suwca dari Besakih datang ke Semeru pada 1989.

Kedatangan mereka sekaligus membahas pengembangan Pura Mandara Giri Semeru Agung.

Perjalanan panjang pembangunan pura akhirnya mencapai tonggak penting pada Minggu Umanis Wuku Menail, tepatnya 8 Maret 1992.

Saat itu digelar untuk pertama kalinya upacara melaspas alit dan mapulang dasar sarwa sekala yang dipimpin delapan pendeta.

Beberapa bulan kemudian, tepatnya pada Purnama Sasih Kasa atau 3 Juli 1992, dilaksanakan upacara besar berupa pamungkah agung, ngenteg linggih, dan pujawali.

Sejak saat itu, Pura Mandara Giri Semeru Agung resmi ditetapkan sebagai Pura Kahyangan Jagat.
Nama Semeru Agung sendiri ternyata baru ditambahkan beberapa bulan setelah peresmian pura.

Kata dia, seorang anak kecil yang masih duduk di bangku sekolah dasar mengalami kerauhan selama tiga hari pada 15 hingga 17 Desember 1992.

Dalam pawisik yang diterima, anak tersebut meminta agar nama pura ditambahkan menjadi Pura Mandara Giri Semeru Agung.

Kini, pura yang berada di lereng Gunung Semeru itu menjadi pusat spiritual bagi sekitar 7.160 umat Hindu di Lumajang.

Tidak hanya menjadi tempat ibadah, Pura Mandara Giri Semeru Agung menjadi simbol perjalanan panjang keyakinan, gotong royong, dan hubungan spiritual antara Jawa dan Bali yang tetap terjaga hingga sekarang.