India adalah pembawa Kambing Senduro

  • May 25, 2026
  • DESA SENDURO

Jejak Bung Karno di Lereng Semeru, Awal Mula Kambing Senduro dari India

Senduro, - Indonesia baru dua tahun merdeka ketika Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, mendatangkan kambing ras India ke Tanah Air untuk dikembangbiakkan sebagai sumber pangan dan gizi masyarakat.

Salah satu wilayah yang dipilih sebagai lokasi pengembangbiakan berada di Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Di kawasan lereng Semeru itu, kambing ras Jamnapari asal India kemudian disilangkan dengan kambing Menggolo, kambing lokal asli Lumajang.

Dari persilangan tersebut lahirlah kambing Senduro, ras kambing unggulan yang kini dikenal hingga mancanegara.
Kala itu, Bung Karno disebut tengah menyiapkan fondasi pembangunan peternakan nasional. 

Selain di wilayah Desa Senduro, kambing ras India juga dikembangkan di Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.
Puluhan tahun berselang, warisan peternakan era Soekarno tersebut justru berkembang menjadi salah satu sumber genetik ternak lokal paling berharga di Indonesia.

Salah seorang peternak kambing Senduro di Desa Senduro, Kecamatan Senduro, Lukman, mengatakan kambing Senduro memiliki sejumlah keunggulan dibanding kambing pada umumnya.

“Kambing Senduro itu posturnya besar. Umur dua tahun bisa sampai 150 kilogram. Susunya juga bisa sampai dua liter per hari,” katanya, Senin (18/5/2026).

Menurut dia, kualitas kambing Senduro membuat banyak pengusaha luar negeri tertarik untuk membawanya ke negara mereka.

Lukman menyampaikan, pada kisaran tahun 2000-an, pengusaha asal Malaysia rutin membeli kambing Senduro dalam jumlah besar untuk dikembangbiakkan.

“Warga sukarela melepas karena harga yang ditawarkan juga jauh lebih tinggi dibanding harga pasar lokal,” ujarnya.

Sebelum transaksi dilakukan, kata dia, pengusaha Malaysia terlebih dahulu menerjunkan tim lapangan untuk memverifikasi mutu kambing Senduro.

“Hasilnya selama dua tahun, sebanyak 500 ekor kambing setiap tiga bulan sekali dibawa ke Malaysia. Semuanya kambing Senduro terbaik,” ucapnya.

Menurutnya, kambing-kambing tersebut dikembangkan dalam sebuah peternakan besar di Malaysia.

Tak hanya Malaysia, sejumlah pengusaha asal Timur Tengah juga disebut pernah mengincar kambing Senduro asal Lumajang.

“Yang terakhir sekitar tahun 2020, ada 150 ekor kambing Senduro rencana diterbangkan ke Abu Dhabi. Tapi gagal karena perizinannya belum lengkap,” katanya.

Masifnya penjualan kambing unggulan ke luar negeri sempat membuat peternak lokal kesulitan mendapatkan bibit berkualitas baik.

Dari kondisi tersebut, lanjut dia, muncul kesadaran di kalangan peternak untuk tidak lagi melepas kambing indukan terbaik.
“Setidaknya kami tidak lagi melepas kambing induk, tapi lebih ke anak-anak kambing,” tuturnya.

Saat ini populasi kambing Senduro di Kabupaten Lumajang diperkirakan mencapai sekitar 43 ribu ekor, dengan pusat pembibitan berada di Kecamatan Senduro dan Pasrujambe.

Untuk diketahui, pada 2014, pemerintah melalui Keputusan Menteri Pertanian Nomor 1055/Kpts/SR.120/10/2014 menetapkan kambing Senduro sebagai kekayaan sumber genetik ternak lokal Indonesia.

Selain dikenal memiliki postur besar, kambing Senduro juga unggul dari sisi produksi susu. Berdasarkan penelitian sejumlah akademisi, kandungan gizi susu kambing Senduro disebut lebih baik dibanding susu sapi maupun susu kambing lainnya.

Produksi susu kambing Senduro saat ini mencapai rata-rata tiga ton per hari dengan jumlah kambing perah sekitar 3.000 ekor.
Harga jual kambing Senduro pun relatif tinggi. 

Meski memiliki prospek ekonomi besar, tambah dia, para peternak kambing Senduro hingga kini masih banyak berjalan sendiri dalam pengembangan usaha maupun pemasaran.

“Bisa dibilang para peternak rakyat kambing Senduro auto pilot, atau berjalan sendiri,” pungkasnya.